Anda Pengunjung Ke-

free counter

Konsultasi Peternakan

KILAS INFORMASI

KAMI SIAP MENDAMPINGI ANDA
SILAHKAN DIPILIH JASA PELATIHAN DIBIDANG PETERNAKAN
KONTAK KAMI SEGERA Dedy Winarto,S.Pt,M.Si CONTACT PERSON: 0853 2672 1970 E-mail : dedy_good@yahoo.co.id>

LINK JURNAL

PERUSAHAAN PETERNAKAN

TUKAR LINK/BANNER

Topik yang menarik dalam website ini?

"SELAMAT DATANG DIWEBSITE KILAS PETERNAKAN, MEDIA ONLINE SEPUTAR DUNIA PETERNAKAN ANDA"

PENGUMUMAN

KRITIK DAN SARAN KONTEN WEB
Jika Konten Web tidak berkenan atau Dilarang Oleh Pemerintah
Kirim e-mail: Dedy_good@yahoo.co.id
Web ini hanya sebagai sarana berbagi Informasi, Pengetahuan dan wawasan Semata. Informasi Lebih lanjut Tlp 0853 2672 1970(No SMS).
SEMOGA BERMANFAAT

Penyebab Kegagalan fertilisasi dalam Kawin Berulang pada Sapi

Thursday, October 30, 2008

A. P. Graden, Durward Olds, C. R. Mochow, and L. R. Mutter Department of Animal Sciences, University of Kentucky, Lexington

Jurnal Dairy Science Vol. 51 No. 5

1. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk menentukan:

  1. Tingkat fertilisasi di dalam kawin berulang

  2. Pengaruh waktu kawin terhadap tingkat fertilisasi

  3. Peran dari berbagai kelainan (abnormalitas) yang menyebabkan kegagalan fertilisasi

2. Materi dan Metode Penelitian

Materi penelitian 150 ekor sapi betina terdiri dari sapi dara (heifer) dan sapi induk yang mengalami kawin berulang dibeli dari peternak radius 100 mile dari Lexington. Semua sapi rata-rata kawin berulang minimal 3 kali tanpa menunjukkan kebuntingan. Siklus estrus relatif normal dan tidak menunjukan tanda-tanda abnormalitas ketika pemeriksaan palpasi rektal. Semua sapi baik induk maupun dara diperiksa gejala-gejala berahinya setiap 8 jam.

Variabel bebas ada 3: 1)Ternak dikawinkan segera/awal (setelah tanda berahi muncul kemudian dicatat). 2).16 jam kemudian setelah pencatatan berahi, 3). Metode keduanya diawal dan akhir. Semua ternak disembelih 2-5 hari setelah di IB, mayoritas pemotongan ± 75% dihari ke-3. Ovum diperoleh dengan membersihkan oviduct menggunakan NaCl Fisiologis 0.9%. Organ reproduksi diamati, kultur bakteriologi yang dibuat berasal dari servik dan uterus.

3. Hasil Penelitian

Tabel 1. Pengamatan Frekuensi Ovum yang diperoleh dalam Ternak


Time of Breeding

Earlya

Lateb

Both

Total

Number of Cows bred

51

49

50

150

Ova recovered from

37

37

30

104

Per cent

72.5

75.5

60

69.3

Ova not recovered from

14

12

20

46

Reason ova not recovered:


Ovulation failure

4

4

5

13

Oviduct obstruction

1

1

3

5c

Ovarian adhesions

0

0

2

2d

Sub Total

5

5

10

20

Number that could produce

46

44

40

130

Ova recovered from

37

37

30

104

Per Cent

80.4

84.1

75

80

a : Ternak dicek berahinya setiap 8 jam. Ternak dikawinkan segera setelah pencatatan

b : Ternak di kawinkan 16 jam kemudian setelah pencatatan berahi

c : 4 ekor ternak lainnya oviduct obstruction, tetapi gagal ovulasi

d : 1 ternak lainnya ovarian adhesions, tetapi juga gagal ovulasi

Tabel 2. Pengamatan Tingkat Fertilisasi dalam Kawin Berulang


Time of Breeding

Early

Late

Both

Total

Number of ova recovered

37

37

30

104

Number of ova fertilized

16

24

18

58

Per Cent

43.2

64.9

60

55.8

Number of ova not fertilized

21

13

12

46

Causes of fertilization failure:


Oviduct obstruction

0

1

0

1

Abnormal ova

3

1

1

5

Endometritis

1

0

2

3

Number that could be fertilized

33

35

27

95

Number fertilized

16

24

18

58

Per Cent

48.5

68.6

66.7

61.1

Tabel 3. Frekuensi Abnormalitas atau Kondisi yang Menyebabkan Kegagalan Fertilisasi dalam Kawin Berulang

Abnormality

Per Cent of a

Number of Cow

Fertilization Failure

Cows bred

Ovulation failure

13

13.1

8.7

Oviduct obstruction

10

10.1

6.7

Abnormal ova

5

5.1

3.3

Ovarian adhesion

3

3

2

Endometritis

5

5.1

3.3

Lost ova b

26

26.3

17.3

Unexplained

37

37.4

24.7

a : 5 ekor ternak memiliki abnormalitas ganda dan mereka dimasukkan dalam salah satu kategori

4. Kesimpulan

  • Tingkat fertilisasi perkawinan awal secara signifikan lebih rendah daripada perkawinan yang dilakukan diakhir maupun yang dikawinkan metode keduanya (P <>

  • Perkawinan metode keduanya (awal dan akhir) dengan double IB, tidak memperbaiki kasus kawin berulang

  • Abnormalitas pada saluran reproduksi dapat menghambat terjadinya fertilisasi

4. Kelemahan dan Saran untuk Penyempurnaan

Kelemahan:

  1. Materi penelitian yang digunakan kurang jelas dari total 150 ekor, berapa jumlah induk dan sapi dara tidak disebutkan. Dari faktor tersebut bisa saja umur induk berpengaruh terhadap kegagalan fertilisasi terutama heifer (sapi dara).

  2. Kualitas semen pejantan juga tidak dibahas terutama motilitas progresif dan prosentase hidup spermatozoa yang digunakan untuk IB memenuhi standar atau tidak (baik kawin alam maupun IB)

  3. Posisi saat IB merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan sperma membuahi ovum (umur ovum sapi maksimal 12 jam setelah ovulasi didalam organ reproduksi sapi betina)

  4. Meskipun tidak ada perlakuan pakan, faktor nutrisi juga berperan dalam keberhasilan reproduksi ternak. Bisa saja faktor pakan yang kurang baik/terlalu baik (obesitas)/abnormalitas saluran reproduksi pada ternak-ternak tersebut.

Upaya Penyempurnaan Penelitian:

  1. Mengelompokkan berdasarkan umur khusus sapi dara (heifer) dan induk yang sudah pernah melahirkan sebelum di IB untuk mengetahui keberhasilan fertilisasinya

  2. Uji kualitas spermatozoa dilapangan pasca thawing (sample):

Parameter:

    1. Motilitas spermatozoa

    2. Abnormalitas

    3. Media thawing (jika IB)

    4. Melakukan studi lanjut penyebab terjadinya abnormalitas saluran reproduksi (mallnutrisi, penyakit, dll)।

1 comments:

ziezie said...

browsing ttg sapi eh nyangkut disini

KILAS PETERNAKAN ON FACEBOOK