Anda Pengunjung Ke-

free counter

Konsultasi Peternakan

KILAS INFORMASI

KAMI SIAP MENDAMPINGI ANDA
SILAHKAN DIPILIH JASA PELATIHAN DIBIDANG PETERNAKAN
KONTAK KAMI SEGERA Dedy Winarto,S.Pt,M.Si CONTACT PERSON: 0853 2672 1970 E-mail : dedy_good@yahoo.co.id>

LINK JURNAL

PERUSAHAAN PETERNAKAN

TUKAR LINK/BANNER

Topik yang menarik dalam website ini?

"SELAMAT DATANG DIWEBSITE KILAS PETERNAKAN, MEDIA ONLINE SEPUTAR DUNIA PETERNAKAN ANDA"

PENGUMUMAN

KRITIK DAN SARAN KONTEN WEB
Jika Konten Web tidak berkenan atau Dilarang Oleh Pemerintah
Kirim e-mail: Dedy_good@yahoo.co.id
Web ini hanya sebagai sarana berbagi Informasi, Pengetahuan dan wawasan Semata. Informasi Lebih lanjut Tlp 0853 2672 1970(No SMS).
SEMOGA BERMANFAAT

engaruh isobutil metilxantina (IMX) dan waktu pemisahan terhadap kualitas dan efektifitas pemisahan spermatozoa

Sunday, April 19, 2009

SIANTURI et al.: Pengaruh isobutil metilxantina (IMX) dan waktu pemisahan terhadap kualitas dan efektifitas pemisahan spermatozoa

Pengaruh Isobutil Metilxantina (IMX) dan Waktu Pemisahan
terhadap Kualitas dan Efektifitas Pemisahan Spermatozoa
dengan Metode Kolom Albumin Telur

R.G. SIANTURI, P. SITUMORANG, E. TRIWULANNINGSIH, T. SUGIARTI dan D.A. KUSUMANINGRUM
Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002
(Diterima dewan redaksi 15 September 2004)
ABSTRACT
SIANTURI, R. G., P. SITUMORANG, E. TRIWULANNINGSIH, T. SUGIARTI and D.A. KUSUMANINGRUM. 2004. The influence of
isobuthyl methylxhantine (IMX) and separation time on viability of spermatozoa and effectiveness of separation using egg
albumin column. JITV 9(4): 246-251.
The separation of spermatozoa using egg-albumin is based on differences in motility, mass and morfometric of X and Y
sperm. Supplementation of 3-isobuthyl-1-1-methylxanthine (IMX), as a cAMP inhibitor phosphodiesterase and could raise
sperm motility, is expected to optimize the X and Y sperm separation. The purpose of this research was to observe the effect of
IMX supplementation and separation time on the quality of separated sperm and the effectiveness of the method of sperm
separation. Completely randomized design with 2 x 2 factorial was used in this research. The first factor was IMX (0.0 and 0.5
mM) while the second factor was separation time (10 and 30 minutes). The parameters observed were sperm concentration, the
percentages of sperm motility, live sperm, sperm with intact apical ridge and the ratio of spermatozoa X and Y which measured
by morfometric of head sperm square. IMX supplementation did not affect sperm concentration both on 10 or 30 minutes. The
30-minute separation time significantly reduced sperm motility in upper fraction while the addition of IMX significantly reduced
sperm motility in lower fraction. There were no significant differences on the percentage of live sperm and sperm with intact
apical ridge in every treatment even in upper or lower fraction. The albumin column sperm separation in this research changed
the ratio of X and Y spermatozoa from 49.7% : 50.3% (fresh semen) to 65.1-84.0% : 16.0-34.9% in upper fraction; and to 24.0-
30.0% : 70.0-75.9% in lower fraction. The addition of IMX increased significantly X spermatozoa percentage (65.1 to 84.0%)
and reduced significant Y-spermatozoa percentage (34.9% to 16.0%) in upper fraction. There was no significant differences on
the ratio of X and Y spermatozoa between 10 and 30-minute of separation time treatment. In conclusion, the albumin column
separation technique can be used to separate X and Y spermatozoa with the duration of 10 to 30 minutes separation time and did
not severely affect the quality of separated sperm. The presence of IMX in separation media has no effect on the sperm
separation effectiveness.
Key words: Sperm separation, isobuthyl methylxanthine, X and Y spermatozoa, albumin column
ABSTRAK
SIANTURI, R. G., P. SITUMORANG, E. TRIWULANNINGSIH, T. SUGIARTI dan D.A. KUSUMANINGRUM. 2004. Pengaruh isobutil
metilxantina (IMX) dan waktu pemisahan terhadap kualitas dan efektifitas pemisahan spermatozoa dengan metode kolom
albumin telur. JITV 9(4): 246-251.
Pemisahan spermatozoa dengan albumin telur didasarkan atas perbedaan motilitas sperma X dan Y karena implikasi
perbedaan motilitas, massa dan ukuran dari kedua jenis spermatozoa tersebut. Penambahan 3-isobutil-1-1-metilxantina (IMX)
yang merupakan inhibitor cAMP phosphodiesterase dan dapat meningkatkan motilitas spermatozoa, diharapkan dapat
mengoptimalkan pemisahan spermatozoa X dan Y. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan IMX dan
pengaruh waktu pemisahan terhadap kualitas sperma dan efektifitas pemisahan spermatozoa X dan Y. Rancangan penelitian
adalah RAL pola faktorial 2x2 dengan faktor IMX (0,0 dan 0,5 mM) dan faktor waktu pemisahan (10 dan 30 menit). Parameter
yang diamati adalah kualitas sperma setelah pemisahan meliputi konsentrasi sperma, persentase sperma motil, hidup dan tudung
akrosom utuh (TAU) serta rasio persentase spermatozoa X dan Y. Penambahan IMX tidak mempengaruhi konsentrasi
spermatozoa baik pada pemisahan dengan waktu 10 maupun 30 menit. Pemisahan dengan waktu 30 menit secara nyata
menurunkan motilitas spermatozoa hanya pada fraksi atas sedangkan penambahan IMX menurunkan motilitas sperma pada
fraksi bawah. Tidak terdapat pengaruh yang nyata pada persentase sperma hidup dan TAU dari semua perlakuan baik pada fraksi
atas dan fraksi bawah. Pemisahan spermatozoa dengan metode kolom albumin dapat mengubah rasio spermatozoa X : Y dari
49,7% : 50,3% (semen segar) menjadi 65,1-84,0% : 16,0-34,9% pada fraksi atas; dan 24,0-30,0% : 70,0-75,9% pada fraksi
bawah. Penggunaan IMX secara nyata meningkatkan persentase spermatozoa X (65,1 menjadi 84,0%) dan juga secara nyata
menurunkan persentase spermatozoa Y (34,9 menjadi 16,0%) pada fraksi atas. Sedangkan lama waktu pemisahan tidak
berpengaruh terhadap perubahan rasio spermatozoa X dan Y. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode pemisahan
sperma menggunakan kolom albumin telur dengan waktu pemisahan 10-30 menit cukup efektif memisahkan spermatozoa dan JITV Vol. 9 No. 4 Th. 2004
247
menghasilkan sperma hasil pemisahan yang masih baik kualitasnya untuk digunakan maupun diproses lebih lanjut. Penambahan
IMX tidak memberikan keuntungan yang berarti dalam efektifitas pemisahan spermatozoa.
Kata kunci: Pemisahan sperma, isobutil metilxantina, spermatozoa X dan Y, kolom albumin
PENDAHULUAN
Efisiensi teknologi IB dapat ditingkatkan dengan
keberhasilan menentukan kelamin anak yang akan
dilahirkan. Anak jantan mempunyai pertumbuhan cepat
dan bobot dewasa yang lebih berat dibandingkan betina,
sehingga keberhasilan menghasilkan anak jantan pada
usaha peternakan sapi potong akan meningkatkan
produksi ternak sapi. Sebaliknya pada usaha sapi perah,
umumnya anak sapi yang diharapkan kelahirannya
adalah anak betina.
Spermatozoa terdiri dari dua jenis, yaitu
spermatozoa pembawa kromosom X (spermatozoa X)
dan spermatozoa pembawa kromosom Y (spermatozoa
Y). Keberhasilan spermatozoa X membuahi sel telur
akan menghasilkan anak dengan kelamin betina (XX)
dan sebaliknya spermatozoa Y akan menghasilkan anak
jantan (XY). Kedua jenis spermatozoa ini dilaporkan
mempunyai sifat yang berbeda antara lain berat, densiti,
motilitas, surface charge dan ukuran (FOOTE, 1982).
Teknologi pemisahan spermatozoa berdasarkan
perbedaan sifat sifat tersebut sudah banyak dilakukan
(HAFEZ dan HAFEZ, 2000). Teknologi dengan flow
cytometry akhir-akhir ini telah dilaporkan dapat
memisahkan spermatozoa X dan Y lebih akurat akan
tetapi dengan menggunakan peralatan yang kompleks
dan sangat mahal (JOHNSON et al., 1994; SEIDEL dan
JOHNSON, 1999). Teknologi yang dapat dengan mudah
diaplikasikan antara lain teknologi pemisahan dengan
menggunakan serum albumin dan sephadex (BEERNINK,
1985). Namun, teknologi pemisahan ini masih belum
optimum karena disamping menggunakan zat kimia
yang cukup mahal, pemutaran sperma, sedikitnya
volume yang digunakan dan juga diperlukan waktu
yang lama, mengakibatkan motilitas sperma menjadi
rendah.
Prinsip pemisahan spermatozoa dengan serum
albumin (bovine serum albumin atau human serum
albumin) adalah didasarkan pada kecepatan motilitas
spermatozoa, dimana spermatozoa yang mempunyai
motilitas tinggi atau spermatozoa pembawa kromosom
Y akan lebih awal menembus media pemisah albumin
yang lebih pekat (MAXWELL et al., 1984). Putih telur
dari telur ayam dapat digunakan sebagai albumin
alternatif pengganti BSA (bovine serum albumin) dalam
proses pemisahan spermatozoa dan dianggap cukup
layak untuk digunakan. Selain mudah terjangkau dan
murah, putih telur juga cukup efektif memisahkan
spermatozoa X dan Y (SAILI, 1999).
Senyawa metilxantina, seperti kafeina, theophylline
dan IMX (3-isobutil-1-metilxantina) merupakan zat
kimia yang mempunyai fungsi sebagai inhibitor
phosphodiesterase (PDE) dalam rantai cAMP. Inhibitor
tersebut banyak digunakan dalam upaya meningkatkan
motilitas dan velocity/kecepatan serta mempertahankan
kualitas spermatozoa (JIANG et al., 1984; TAKAHASHI
dan FIRST, 1993; NOMURA et al., 1997). Penggunaan
metilxantina biasanya bertujuan meningkatkan kualitas
sperma yang kurang baik maupun sperma beku yang
akan dithawing dan digunakan untuk IB atau fertilisasi
in vitro (SHARMA et al., 1992). Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh penambahan IMX dalam
media pemisahan dan lama waktu pemisahan terhadap
kualitas sperma dan perubahan rasio spermatozoa X dan
Y setelah pemisahan.
MATERI DAN METODE
Penampungan semen
Pada penelitian ini digunakan seekor pejantan
sebagai sumber semen yang dikoleksi seminggu sekali
dengan menggunakan vagina buatan. Sapi pejantan
tersebut ditempatkan pada kandang individu dan diberi
pakan rumput dan minum secara ad libitum serta
konsentrat sebanyak 8 kg hari
-1
ekor
-1
sebagai
suplementasi. Segera setelah penampungan, semen
dievaluasi kualitasnya dan hanya semen dengan kualitas
baik saja yang digunakan dalam penelitian ini.
Pembuatan kolom
Pengencer yang digunakan adalah Tris Sitrat Bufer
dengan 20%(v/v) kuning telur (KT) (SITUMORANG et
al., 2000). Media pemisahan yang dipakai untuk
pembuatan kolom adalah pengencer yang mengandung
putih telur dari telur ayam kampung yang masih segar
dan sudah disaring. Kolom fraksi atas adalah pengencer
yang mengandung 10% (v/v) putih telur, sedangkan
untuk kolom fraksi bawah adalah pengencer yang
mengandung 30% (v/v) putih telur. Lapisan kolom
dibuat dengan cara memasukkan 2 ml fraksi bawah dan
diikuti dengan 2 ml fraksi atas secara perlahan-lahan.
Penambahan IMX, dilakukan sejumlah 0,5 mM
IMX pada setiap fraksi. Media fraksi atas adalah Tris
Sitrat + 20% KT + 10% putih telur + 0,5 mM IMX,
sedangkan fraksi bawah adalah Tris Sitrat + 20% KT +
30% putih telur + 0,5 mM IMX. SIANTURI et al.: Pengaruh isobutil metilxantina (IMX) dan waktu pemisahan terhadap kualitas dan efektifitas pemisahan spermatozoa
248
Pemisahan spermatozoa
Secepatnya setelah penampungan, semen dievaluasi
dan diencerkan 1:1 dengan pengencer Tris 20% KT.
Sebanyak 1 ml suspensi diletakkan di atas permukaan
lapisan kolom albumin, kemudian dibiarkan selama 10
dan 30 menit sebagai perlakuan waktu pemisahan.
Untuk pemanenan, 2 ml dari suspensi teratas dari
permukaan diambil sebagai hasil pemisahan fraksi atas
dan 2 ml lapisan terbawah sebagai hasil pemisahan
fraksi bawah, sedangkan 1 ml suspensi yang ada di
tengah atau diantaranya dibuang. Hasil pemisahan
fraksi atas dan bawah diencerkan 1:3 dengan Tris Sitrat
20% KT dan disentrifus (1500 rpm) selama 10 menit
untuk mencuci sperma dari larutan putih telur. Pelet
hasil sentrifuse diencerkan kembali dengan Tris Sitrat
20% KT sehingga mempunyai konsentrasi akhir 100
juta spermatozoa/ml atau konsentrasi standar untuk
dibekukan. Setelah itu, sperma yang sudah diencerkan
dievaluasi kualitasnya serta diamati morfometri sperma
dari tiap-tiap fraksi dan perlakuan dengan memakai
mikroskop.
Rancangan penelitian
Rancangan percobaan adalah rancangan acak
lengkap pola faktorial 2 x 2. Konsentrasi IMX yang
ditambahkan pada media pemisahan (0,0 dan 0,5 mM)
sebagai faktor pertama dan waktu pemisahan sebagai
faktor kedua (10 dan 30 menit). Parameter yang diamati
adalah kualitas spermatozoa meliputi konsentrasi
spermatozoa, persentase motilitas (%M), hidup (%H)
dan tudung akrosom utuh (%TAU) serta persentase
sperma X dan Y. Penentuan persentase spermatozoa
pembawa kromosom X dan Y adalah berdasarkan
pengamatan morfometri, yaitu mengukur ukuran luas
kepala spermatozoa (panjang x lebar) menggunakan
mikroskop yang dilengkapi alat micrometer dengan
pembesaran 1000 kali.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil evaluasi semen segar baik secara makroskopik
maupun mikroskopik memberikan gambaran
karakteristik semen sapi yang normal (Tabel 1). Angka
rata-rata yang diperoleh merupakan nilai rata-rata
kualitas semen sapi sebanyak 8 kali ulangan. Dari hasil
tersebut, baik dari pengamatan secara makroskopik
maupun mikroskopik, semen segar yang digunakan
mempunyai rataan kualitas yang baik dan memberikan
gambaran karakteristik semen sapi yang normal dan
sangat layak untuk diproses lebih lanjut. Perbandingan
spermatozoa X : Y yang diperoleh di laboratorium
sebesar 49,7% : 50,3% mendekati perbandingan secara
teoritis. Secara teoritis komposisi spermatozoa X : Y
dalam semen segar adalah 50% : 50% (REED, 1985;
MCDONALD dan PINEDA, 1982; HAFEZ dan HAFEZ,
2000).
Tabel 1. Kualitas semen segar hasil penampungan
Penilaian Rataan ± SD*)

Makroskopik:
Volume (ml)
Warna
Konsistensi
pH

5,94 ± 1,24
krem keputihan
agak kental
7
Mikroskopik:
Konsentrasi (juta/ml)
Gerakan massa
Sperma motil (%)
Sperma hidup (%)
Persentase tudung akrosum utuh (%)
Pesentase spermatozoa pembawa
kromosom X (%)
Persentase spermatozoa pembawa
kromosom Y (%)

1351 ± 330
+++**)

78,9 ± 3,3
86,4 ± 2,8
77,6 ± 4,6
49,7 ± 3,0

50,3 ± 3,0
*)
hasil dari 8 kali ulangan ;
**)
+++ : sangat baik
Kualitas semen sapi meliputi konsentrasi, persentase
sperma motil, sperma hidup dan tudung akrosom utuh
(TAU) dari semen sapi setelah mengalami proses
pemisahan dengan metode kolom albumin tersaji pada
Tabel 2. Hasil pengamatan konsentrasi spermatozoa
pada fraksi atas dan bawah terlihat bahwa konsentrasi
terpadat dari semua perlakuan terdapat pada fraksi atas.
Hasil ini menunjukkan bahwa distribusi spermatozoa
dalam kolom semakin rendah pada kolom yang
mengandung albumin tinggi (30%). Menurut ERRICSON
dan GLASS (1982) hal tersebut disebabkan penambahan
albumin ke dalam pengencer meningkatkan viskositas
dan densitas pengencer sehingga membatasi jumlah
sperma yang masuk, yaitu hanya sperma yang benar-
benar motil yang dapat menembus pengencer dengan
albumin 30%. Penambahan IMX tidak berpengaruh
nyata terhadap konsentrasi spermatozoa baik pada
waktu pemisahan 10 dan 30 menit pada kedua fraksi
baik pada fraksi atas maupun fraksi bawah. JITV Vol. 9 No. 4 Th. 2004
249
Tabel 2. Pengaruh penambahan IMX dan lama waktu pemisahan terhadap kualitas sperma hasil pemisahan pada fraksi atas dan
bawah
Fraksi atas Fraksi bawah
Parameter IMX
10 menit 30 menit Rata-rata 10 menit 30 menit Rata-rata
0,0 mM 640,5+331,2 653,9+294,2 647,2a
522,2+312,9 530,0+256,4 526,1a

0,5 mM 770,0+198,6 615,0+357,2 692,5a
439,4+337,7 476,1+243,8 457,7a

Konsentrasi
(juta/ml)
Rata-rata 705,2p
634,4p
480,8p
503,0p

0,0 mM 78,9+2,2 76,7+5,0 77,8+3,9a
77,8+4,4 75,6+5,3 76,7+4,9a

0,5 mM 80,0+0,0 76,7+5,0 78,3+3,8a
68,3+7,9 70,0+7,1 69,2+7,3b

Motilitas (%)
Rata-rata 79,4+1,6p
76,7+4,8q
73,0+7,9p
72,8+6,7p

0,0 mM 85,2+3,9 86,9+2,1 86,0+3,3a
84,6+3,1 85,4+5,2 84,9+4,2a

0,5 mM 86,7+2,1 85,0+2,7 85,8+2,5a
81,4+6,3 81,0+5,2 81,2+5,6b

Sperma hidup (%)
Rata-rata 85,9+3,2p
85,9+2,5p
83,0+5,0p
83,1+5,5p

0,0 mM 77,9+4,2 79,8+7,0 78,8+5,7a
79,0+3,9 76,9+2,9 77,9+3,4a

0,5 mM 76,8+3,7 78,1+4,8 77,4+4,2a
79,9+5,5 78,1+5,2 79,0+5,3a

TAU (%)
Rata-rata 77,3+3,9p
78,9+5,9p
79,4+4,7p
77,5+4,1p

ab
Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata (P<0,05)
pq
Superskrip yang berbeda pada baris yang sama berbeda nyata (P<0,05)
Pada fraksi atas, rata-rata persentase sperma motil
pada waktu pemisahan 10 menit (79,4%) nyata lebih
besar (P<0,05) dibandingkan dengan persentase motil
pada waktu pemisahan 30 menit (76,7%). Sedangkan
pada fraksi bawah, walaupun terdapat tendensi yang
sama dengan fraksi atas namun perbedaannya tidak
nyata. Hal ini menggambarkan bahwa secara umum
motilitas spermatozoa akan menurun seiring
bertambahnya waktu pemisahan.
Dari Tabel 2, terlihat motilitas spermatozoa lebih
rendah pada fraksi bawah dibandingkan dengan fraksi
atas pada tiap perlakuan. Hal ini disebabkan karena
diperlukan energi lebih banyak agar sperma dapat
menembus albumin 30% sehingga motilitasnya jadi
menurun. Pada fraksi atas, penambahan IMX tidak
memperlihatkan perbedaan yang nyata terhadap
motilitas sperma, sedangkan pada fraksi bawah
penambahan IMX menurunkan persentase sperma motil
secara signifikan (P<0,05) yaitu dari 76,7% menjadi
69,2%. Penggunaan IMX ternyata tidak dapat
mempertahankan motilitas sperma pada fraksi bawah
dimana spermatozoa telah menurun tenaganya karena
usaha menembus kolom albumin yang lebih pekat. Hal
ini kemungkinan disebabkan penambahan IMX telah
merangsang motilitas sejak awal perlakuan pemisahan
yaitu saat mulai semen diletakkan di atas kolom
albumin sampai penembusan albumin 30%, sehingga
menyebabkan terkurasnya energi dari sperma yang
sampai ke fraksi bawah.
Persentase sperma hidup dan tudung akrosom utuh
(TAU), secara umum tidak berbeda nyata (P>0,05)
antar perlakuan baik pada fraksi atas maupun fraksi
bawah. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan
pemisahan dan sentrifugasi tidak membahayakan
spermatozoa yaitu persentase sperma hidup dan
keutuhan membran akrosom masih sangat baik dan
normal seperti pada semen segar (Tabel 1). Secara
umum kualitas semen setelah pemisahan masih layak
untuk diinseminasi dan untuk diproses lebih lanjut yaitu
dibekukan.
Pengaruh pemakaian IMX dan lama waktu
pemisahan terhadap rasio spermatozoa pembawa
kromosom X dan Y tertera pada Tabel 3. Dari tabel
tersebut, dapat dikatakan bahwa teknik pemisahan
kolom albumin dapat mengubah rasio X : Y pada semen
segar yaitu dari 49,7% : 50,3% (Tabel 1) menjadi
sekitar 73,5-84,0% : 16,0-26,6% pada fraksi atas; dan
24,0-30,0% : 70,0-75,9% pada fraksi bawah. Hasil ini
menunjukkan bahwa teknik pemisahan dengan metode
kolom albumin telur cukup efektif memisahkan
spermatozoa X dan Y. SIANTURI et al.: Pengaruh isobutil metilxantina (IMX) dan waktu pemisahan terhadap kualitas dan efektifitas pemisahan spermatozoa
250
Tabel 3. Pengaruh penambahan IMX dan lama waktu pemisahan terhadap persentase spermatozoa pembawa kromosom X dan Y
pada fraksi atas dan bawah
Fraksi atas Fraksi bawah
Waktu pemisahan Waktu pemisahan
Jenis spermatozoa Konsentrasi IMX
10 menit 30 menit
Rata-rata
10 menit 30 menit
Rata-rata
0,0 mM 67,9 62,3 65,1a
29,3 24,7 27,0a

0,5 mM 78,9 89,1 84,0b
30,6 23,4 27,0a

X
Rata-rata 73,4p
75,7p
30,0p
24,0p

0,0 mM 32,1 37,7 34,9a
70,7 75,3 73,0a

0,5 mM 21,1 10,9 16,0b
69,4 76,6 73,0a

Y
Rata-rata 26,6p
24,7p
70,0p
75,9p

ab
Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata (P<0,05)
pq
Superskrip yang berbeda pada baris yang sama berbeda nyata (P<0,05)
Penggunaan IMX secara nyata meningkatkan
persentase spermatozoa X (65,1% menjadi 84,0%) dan
nyata menurunkan persentase spermatozoa Y (34,9%
menjadi 16,0%) pada fraksi atas. Dengan perkataan lain
bahwa penambahan 0,5 mM IMX ke dalam kolom
albumin dapat memacu motilitas spermatozoa pembawa
kromosom Y yang motilitasnya lebih tinggi
dibandingkan spermatozoa X yang akan lebih cepat
menembus lapisan bawah sehingga lebih cepat
memisahkan diri meninggalkan lapisan atas. Sesuai
yang dilaporkan oleh GARBERS et al. (1971) bahwa
IMX menstimulasi motilitas dan proses respirasi.
Namun pada fraksi bawah tidak terdapat perbedaan
efektifitas pemisahan dengan atau tanpa IMX.
Penggunaan waktu pemisahan 10 menit maupun 30
menit juga tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata
pada rasio spermatozoa X dan Y baik pada fraksi atas
maupun fraksi bawah meskipun ada kecenderungan
rasio perbedaan persentase kedua jenis spermatozoa
meningkat seiring meningkatnya waktu pemisahan.
KESIMPULAN
Pemisahan spermatozoa dengan metode kolom
albumin berhasil mengubah rasio X : Y dari 49,30 :
50,70% menjadi 65,1-84,0% : 16,0-34,9% pada fraksi
atas; dan 24,0-30,0% : 70,0-75,9% pada fraksi bawah.
Untuk mendapatkan spermatozoa X digunakan fraksi
atas sedangkan fraksi bawah digunakan apabila kita
menghendaki spermatozoa Y.
Penambahan IMX 0,5 M tidak berpengaruh
terhadap pemisahan spermatozoa X dan Y yang
menggunakan metode kolom albumin. Pemisahan
spermatozoa X dan Y metode kolom albumin dapat
dilakukan selama 10 sampai dengan 30 menit
mengingat perbedaan waktu di antara keduanya tidak
memberikan hasil yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
BEERNINK F.J. 1985. Technique for separating X and Y
spermatozoa. In: Foundations of In Vitro Fertilization.
C.M. FREDRICKS, J.D. PAULSON, A.H. DECHERNEY
(Eds.). New York, Hemisphere Use of fresh and frozen–
thawed bull sperm in vitro. Theriogenology 35: 204.
ERICSON, R.J. dan R.H. GLASS. 1982. Functional differences
between sperm bearing the X- or Y-chromosome. In:
Prospects for Sexing Mammalian Sperm. R.P. AMANN
and G.E. SEIDEL, JR. (Eds.). Colorado University
Asscociated Press. Boulder, Colorado, USA. pp. 201-
211.
FOOTE, R.H. 1982. Functional differences between sperm
bearing X and Y chromosome. In: Prospects for Sexing
Mamalian Sperm. BP AMANN and G.E. SEIDEL, JR
(Eds.). Colorado University Asscociated Press. Boulder,
Colorado, USA.
GARBERS, D.L., N.L. FIRST, J.J. SULLIVAN and A.H. LARDY.
1971. Stimulation and maintenance of ejaculated bovine
spermatozoan respiration and motility by caffeine. Biol.
Reprod. 5: 336-339.
HAFEZ E.S.E. and B. HAFEZ. 2000. X and Y Chromosome-
Bearing Spermatozoa. In: Reproduction in Farm
Animals. 7th
edition. E.S.E. HAFEZ and B. HAFEZ (Eds.).
Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. pp. 390-
394.
JIANG, C.S., S.A. KILFEATHER, R.M. PEARSON and P. TURNER.
1984. The potencies of caffeine, theophylline, lysine-
theophylline and 3-isobuthyl-1-1methylxanthine
(IBMX) on human sperm motility. Brit. J. Clin.
Pharmacol. 18(2):258-262. JITV Vol. 9 No. 4 Th. 2004
251
JOHNSON, L.A., D.G. CRAN and C. POLGE. 1994. Recent
advances in sex preselection of cattle: Flow cytometric
sorting of X- and Y-chromosome bearing sperm based
on DNA to produce progeny. Theriogenology 41: 51-56.
MAXWELL, W.M.C., G. MENDOZA and I.G. WHITE. 1984. Post-
thawing survival of rate motile ram semen after
isolation by layering on protein columns.
Theriogenology 21: 601-606.
MCDONALD, L.E. and M.H. PINEDA. 1982. Veterinary
Endrocrinology and Reproduction. Fourth Edition. Lea
and Febiger. Philadelphia.
NOMURA, M.K., K. INABA and M. MORISAWA. 1997. Role of
cAMP-dependant Phosphorylation of dyne in Light
Chain on the SAAF- dependant activation of sperm
motility in the Ascidian Ciona Interstinalis. Morisawa
Misaki Mar. Biol. Sta., Misaki Miura Kanagawa 238-
02. Japan. p. 8.
REED, K.C. 1985. Modification of the sex ration. In:
Biotechnology and Recombinant DNA Technology in
the Animal Production Industries. RA. LEG, J.S.F.
BARKE, D.B. ADAMS and K.J HUTCHINSON. (Eds.). 1985.
University of New England. Australia.
SAILI, T. 1999. Efektifitas penggunaan albumin sebagai
medium separasi dalam upaya mengubah rasio alamiah
spermatozoa pembawa kromosom X dan Y pada sapi.
Tesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
SEIDEL, JR. G.E. and L.A. JOHNSON. 1999. Sexing mammalian
sperm-overview. Theriogenology 52: 1267-1272.
SHARMA, M.L., G. MOHAN and K.L. SAHNI. 1992. A study on
acrosomal damage on cryopreservation of crossbred bull
semen. Indian. Vet. J. (69): 962-964.
SITUMORANG, P., E. TRIWULANNINGSIH, A. LUBIS, T. SUGIARTI
dan W. CAROLINE. 2000. Optimalisasi penggunaan
chilling semen untuk meningkatkan persentase
kebuntingan sapi perah. Laporan Penelitian Balitnak,
Ciawi.
TAKAHASHI, Y. and N.L. FIRST. 1993. In vitro fertilization of
bovine oocytes in the precence of theophyline. Anim.
Reprod. Sci. 34:1-18.

Admin by Dedy,S.Pt
@ April 2009

0 comments:

KILAS PETERNAKAN ON FACEBOOK