Anda Pengunjung Ke-

free counter

Konsultasi Peternakan

KILAS INFORMASI

KAMI SIAP MENDAMPINGI ANDA
SILAHKAN DIPILIH JASA PELATIHAN DIBIDANG PETERNAKAN
KONTAK KAMI SEGERA Dedy Winarto,S.Pt,M.Si CONTACT PERSON: 0853 2672 1970 E-mail : dedy_good@yahoo.co.id>

LINK JURNAL

PERUSAHAAN PETERNAKAN

TUKAR LINK/BANNER

Topik yang menarik dalam website ini?

"SELAMAT DATANG DIWEBSITE KILAS PETERNAKAN, MEDIA ONLINE SEPUTAR DUNIA PETERNAKAN ANDA"

PENGUMUMAN

KRITIK DAN SARAN KONTEN WEB
Jika Konten Web tidak berkenan atau Dilarang Oleh Pemerintah
Kirim e-mail: Dedy_good@yahoo.co.id
Web ini hanya sebagai sarana berbagi Informasi, Pengetahuan dan wawasan Semata. Informasi Lebih lanjut Tlp 0853 2672 1970(No SMS).
SEMOGA BERMANFAAT

SOAL BIBIT AYAM KAMPUNG

Thursday, November 05, 2009

Masalah klasik yang selalu dihadapi dalam usaha ternak ayam kampung adalah ketersediaan bibit. Fakta di lapangan menggambarkan betapa sulitnya mencari bibit yang baik, apalagi dalam jumlah banyak.Ketersediaan bibit ayam kampung menjadi titik kritis dalam menjamin kontinyuitas produksi. Sayangnya, justru di titik tersebut pula kelemahan pengembangan ayam kampung di Indonesia. Padahal tidak dapat dipungkiri, semua kalangan mengakui berbagai nilai lebih dan nilai komersial ayam kampung.Salah satu sebab minimnya ketersediaan tersebut karena ayam kampung memiliki sifat mengeram yang panjang, sehingga produksi telur/tahun relatif rendah. Ayam kampung pertama kali bertelur sekitar umur 5 – 6 bulan. Artinya, agar produksi telur kontinyu dan konstan persiapan bibit memerlukan waktu tiap 5 – 6 bulan. Produksi telur per periode sekitar 10 – 12 butir telur. Secara alami ayam kampung akan mengerami telurnya selama 21 hari dan kemudian memelihara anak sekitar 1 bulan. Secara endokrinologis (ilmu tentang hormon), aktivitas mengeram dipengaruhi oleh adanya hormon prolaktin yang disekresi oleh hypophise anterior (organ di otak). Hormon prolaktin pada bangsa burung termasuk ayam berperan dalam tingkah laku, seperti sifat mengeram dan memelihara anak-anaknya. Pada akhir periode peneluran, kadar hormon prolaktin meningkat. Tingginya kadar hormon prolaktin akan menghambat sekresi FSH (Folicle Stimulating Hormone) sehingga hormon estrogen di ovarium menurun dan proses pemasakan sel telur terhenti, demikian juga hormon LH (Luteizining Hormone) yang berperan dalam proses ovulasi. Akibatnya proses bertelur terhenti, dan ayam akan mengeram. Waktu mengeram dan memelihara anak inilah yang mengakibatkan produksi telur secara kumulatif rendah yang berakibat pada terbatasnya ketersediaan bibit.

Strategi
Penyediaan bibit secara mandiri (oleh peternak) sebenarnya tidaklah sulit. Pengaturan reproduksi merupakan strategi untuk mengatasi ketersediaan bibit yang masih kurang memadai. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk hal tersebut adalah sebagai berikut :
1.Pemeliharaan ayam betina harus dipisahkan sesuai tujuan pemeliharaan, apakah sebagai ayam penghasil telur tetas atau ayam penghasil telur konsumsi. Penulis: Ir. Sri Kismiati,MP Source:http://trobos.com/ acces Tgl 5 November 2009

Admin by Dedy,S.Pt,M.Si
@ November 2009

2 comments:

Materi Kuliah said...

ke sini lai kang... aku copy ya...

Dedykoe said...

ok,silahkan di copy asalkan ada link-nya....thanks tlh berkunjung & berkomentar...sukses selalu

KILAS PETERNAKAN ON FACEBOOK