Anda Pengunjung Ke-

free counter

Konsultasi Peternakan

KILAS INFORMASI

KAMI SIAP MENDAMPINGI ANDA
SILAHKAN DIPILIH JASA PELATIHAN DIBIDANG PETERNAKAN
KONTAK KAMI SEGERA Dedy Winarto,S.Pt,M.Si CONTACT PERSON: 0853 2672 1970 E-mail : dedy_good@yahoo.co.id>

LINK JURNAL

PERUSAHAAN PETERNAKAN

TUKAR LINK/BANNER

Topik yang menarik dalam website ini?

"SELAMAT DATANG DIWEBSITE KILAS PETERNAKAN, MEDIA ONLINE SEPUTAR DUNIA PETERNAKAN ANDA"

PENGUMUMAN

KRITIK DAN SARAN KONTEN WEB
Jika Konten Web tidak berkenan atau Dilarang Oleh Pemerintah
Kirim e-mail: Dedy_good@yahoo.co.id
Web ini hanya sebagai sarana berbagi Informasi, Pengetahuan dan wawasan Semata. Informasi Lebih lanjut Tlp 0853 2672 1970(No SMS).
SEMOGA BERMANFAAT

Model Inseminasi Buatan Kelinci Dengan Superovulasi

Wednesday, March 16, 2011



Oleh Dedy Winarto,S.Pt,M.Si

Teknologi Inseminasi Buatan (IB) pada hewan peliharaan telah dilakukan dari sejak dahulu kala, pada tahun 1780, Lazarro Spallanzani dari Italia telah berhasil melakukan IB pada anjing. Teknologi pengembangbiakan hewan ini telah begitu populer penerapannya pada sapi dan cukup berhasil di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dewasa ini, teknologi IB ini telah berkembang untuk dapat diterapkan ke berbagai ternak tidak hanya kambing, domba dan unggas tetapi telah mulai diterapkan pada kelinci.

Kelinci merupakan salah satu alternatif aneka ternak untuk dapat memenuhi kebutuhan protein hewani yang terus meningkat di Indonesia, terutama di daerah rawan gizi di daerah pedesaan maupun perkotaan.
Kelinci mendukung untuk dikembangkan di daerah dengan populasi penduduk relatif tinggi. Adanya penyebaran kelinci juga menimbulkan sebutan yang berbeda, di Eropa disebut rabbit, Indonesia disebut kelinci, Jawa disebut trewelu. Secara umum kelinci dikenal sebagai hewan prolifik (beranak banyak) yang mampu berkembangbiak secara cepat, sehingga dipandang sebagai penghasil daging alternatif yang cukup efisien, selain penghasil kulit, dan bulu yang baik. Pada kondisi lingkungan menunjang, kelinci mampu melahirkan 10-11 kali/tahun dengan rata-rata 6-7 anak per kelahiran dan beranjak dewasa pada umur 6 bulan
Di Magelang sebagai salah satu sentra budidaya kelinci di Jawa Tengah pada tahun 2006 tercatat ada 1800 KK yang memiliki usaha budidaya tersebut. Taruhlah peternak cuma memiliki 1 pasang kelinci misalnya, dari 1.800 pasang kelinci akan melahirkan 6 kali/tahun dan beranak 6 ekor, maka dalam satu tahun akan menjadi 64.800 ekor kelinci. Perkembangbiakan (reproduksi) kelinci memegang peranan penting untuk dapat meningkatkan populasi, dengan demikian produksi daging, kulit dan bulu yang diharapkan mampu menopang kebutuhan pasar, membantu menopang ekonomi keluarga serta mendukung program pemerintah tentang kecukupan daging 2010. Selain itu, hasil ikutan masih dapat dimanfaatkan untuk pupuk, kerajinan dan pakan ternak.
Ada banyak jenis kelinci yang ada di dunia. Jenis yang umum diternakkan adalah jenis Angora, American Chinchilla, Belgian, Californian, Dutch, English Spot, Flemish Giant, Havana, Himalayan, New Zealand Red, White dan Black, Rex Amerika Swissfok, Smoke pearl, satin, Paprika, Lyon, dan Hotot. Kelinci lokal yang ada sebenarnya berasal dari Eropa yang telah bercampur dengan jenis lain hingga sulit dikenali lagi.
Permasalahan Reproduksi

Kelinci betina secara umum segera dikawinkan ketika mencapai dewasa pada umur 5 bulan (betina dan jantan). Bila terlalu muda kesehatan terganggu dan mortalitas anak tinggi. Bila pejantan pertama kali mengawini, sebaiknya kawinkan dengan betina yang sudah pernah beranak. Waktu kawin pagi/sore hari di kandang pejantan dan biarkan hingga terjadi 2 kali perkawinan, setelah itu pejantan dipisahkan. Setelah perkawinan, kelinci akan mengalami kebuntingan selama 30-32 hari. Kebuntingan pada kelinci dapat dideteksi dengan meraba perut kelinci betina 12-14 hari setelah perkawinan, bila terasa ada bola-bola kecil berarti terjadi kebuntingan. Lima hari menjelang kelahiran induk dipindah ke kandang beranak untuk memberi kesempatan menyiapkan penghangat dengan cara merontokkan bulunya. Kelahiran kelinci sering terjadi pada malam hari dengan kondisi anak lemah, mata tertutup dan tidak berbulu.

......to be continued...(silahkan tunggu kelanjutannya)semoga menambah wawasan anda.

(Dedy Winarto,S.Pt,M.Si Dosen Prodi Peternakan Universitas Muhammadiyah Purworejo, Staf Litbang DPC HKTI Kab. Purworejo, Tim Reds Linked Kab. Purworejo, Seksi PDS-FEDEP Kabupaten Purworejo).



0 comments:

KILAS PETERNAKAN ON FACEBOOK