Anda Pengunjung Ke-

free counter

Konsultasi Peternakan

KILAS INFORMASI

KAMI SIAP MENDAMPINGI ANDA
SILAHKAN DIPILIH JASA PELATIHAN DIBIDANG PETERNAKAN
KONTAK KAMI SEGERA Dedy Winarto,S.Pt,M.Si CONTACT PERSON: 0853 2672 1970 E-mail : dedy_good@yahoo.co.id>

LINK JURNAL

PERUSAHAAN PETERNAKAN

TUKAR LINK/BANNER

Topik yang menarik dalam website ini?

"SELAMAT DATANG DIWEBSITE KILAS PETERNAKAN, MEDIA ONLINE SEPUTAR DUNIA PETERNAKAN ANDA"

PENGUMUMAN

KRITIK DAN SARAN KONTEN WEB
Jika Konten Web tidak berkenan atau Dilarang Oleh Pemerintah
Kirim e-mail: Dedy_good@yahoo.co.id
Web ini hanya sebagai sarana berbagi Informasi, Pengetahuan dan wawasan Semata. Informasi Lebih lanjut Tlp 0853 2672 1970(No SMS).
SEMOGA BERMANFAAT

Hormon LH

Wednesday, January 23, 2008

BAB I
PENDAHULUAN
Penurunan produksi telur sehubungan dengan penambahan umur erat hubungannya dengan fungsi fisiologis organ-organ reproduksi. Fungsi organ-organ reproduksi sangat dipengaruhi oleh hormon gonadotropin yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa anterior. Hormon gonadotropin yang dihasilkan oleh hipofisa anterior terdiri dari folicle stimulating hormone (FSH) dan Luteinizing hormone (LH). Hormon FSH mempengaruhi pertumbuhan folikel muda menjadi folikel masak dan LH mempengaruhi terjadinya ovulasi.
Pada hewan betina FSH dan LH akan mempengaruhi indung telur (ovarium). FSH, LH, dan estrogen bersama-sama akan terlibat dalam siklus ovulasi dan sekaligus mempersiapkan uterus berkembang pada mamalia. Sedangkan pada jantan, FSH dan LH akan mempengaruhi testis untuk mulai produksi hormon testosteron dan sperma. Testosteron dibutuhkan agar tubuh untuk perubahan sifat kelamin sekunder dan produksi sperma yang diperlukan untuk proses reproduksi.
Hormon LH dapat mendorong pertumbuhan folikel menjadi folikel praovulasi dan diikuti terjadinya ovulasi. Pada waktu folikel praovulasi tumbuh, mulai terjadi peningkatan sekresi hormon progesteron oleh lapisan sel theka. Peningkatan progesteron ini menyebabkan lapisan granulosa menjadi lebih responsif terhadap hormon LH pada saat folikel mendekati ovulasi. Progesteron selanjutnya menggertak peningkatan kadar LH yang menyebabkan terjadinya ovulasi (Hafez, 2000).
BAB II
ISI
Kelenjar Endokrin

Kelenjar endokrin atau sering disebut kelenjar buntu, produk disekresikan tanpa bantuan saluran atau duktus, yaitu langsung ke dalam system vascular, di mana kemudian bersirkulasi dan sangat mempengaruhi berbagai mekanisme fundamental. Kelenjar yang umumnya digolongkan sebagai endokrin meliputi hipofisis (pituitary), tiroid, paratiroid, pancreas, adrenal, gonad (ovari dan testis), dan plasenta. Kadang-kadang dimasukkan juga kelenjar pineal dan timus (Frandson, 1991).
Kelenjar pituitari (hipofisis) terdiri dari adenohipofisis (lobus anterior) dan neurohipofisis. Beberapa hormon yang dihasilkan oleh adenohipofise adalah:
STH (somatotropic hormon/somatotropin/hormon pertumbuhan)
ACTH (adrenokortikotropin/adrenokortikotropic hormon/kortikotropon)
TSH (tirotropin/tiroid stimulating hormon)
FSH (follicle stimulating hormon)
LH (♀:luteinizing hormon/♂ ICSH: interstitial cell stimulating hormon)
LTH (luteotropic hormone/luteotropin/lactogenic hormone/prolaktin)
Sedangkan hormon neurohipofisis meliputi hormon:
ADH (Antideuritic hormone/vasopresin)
Oksitosin
Hormon LH (Luteinizing Hormon)
Menurut (Frandson, 1991) LH (luteunizing hormone) merupakan salah satu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar Gonadotropin selain FSH dan prolaktin. Lebih lanjut dijelaskan oleh (Champbell dan Lasley 1977), sekresi gonadotropin oleh hipofisis anterior berpengaruh terhadap reproduksi jantan maupun betina. Pada hewan betina LH akan meningkat produksinya apabila FSH menurun. LH pada hewan betina berperanan penting dalam menggertak terjadinya ovulasi. Menurut (Turner dan Bagnara, 1976) menjelaskan bahwa ovulasi merupakan proses dimana dilepasnya sel telur (gamet betina) ke tuba fallopi karena meluruhnya folikel graafian. Ovulasi terdiri dari beberapa tahapan yang dipengaruhi oleh hormon – hormon tubuh yang penting dimana semuanya dikendalikan dalam kontrol hormonal.
Pada ayam bertambahnya kadar LH dalam darah menyebabkan meningkatnya vaskularisasi pada dinding folikel yang sudah tua. Pecahnya folikel (ovulasi) terjadi karena adanya tekanan dari dalam folikel yang bertambah besar dan persobekan pada daerah stigma yang pucat karena karena bagian ini kurang memperoleh darah. Peningkatan LH berkaitan dengan meningkatnya sekresi estrogen, pemasakan ovum, ovulasi, serta pembentukan korpus luteum. Korpus luteum menghasilkan hormone progesteron yang bisa menghambat sekresi LH dan mencegah pertumbuhan folikel yang lebih banyak serta ovulasi. Proses ovulasi tidak berdiri sendiri. Proses ovulasi merupakan bagian dari rangkaian proses yang panjang yang dinulai sejak berada dalam kandungan. Sebelum terjadi ovulasi berlangsung proses oogenesis. Oogenesis adalah suatu proses pembelahan sel dari oogonium menjadi oosit yang nantinya menjadi ootid. Selanjutnya ootid inilah yang nantinya mengalami ovulasi.
Hormon LH dapat mendorong pertumbuhan folikel menjadi folikel praovulasi dan diikuti terjadinya ovulasi. Pada waktu folikel praovulasi tumbuh, mulai terjadi peningkatan sekresi hormon progesteron oleh lapisan sel theka. Peningkatan progesteron ini menyebabkan lapisan granulosa menjadi lebih responsif terhadap hormon LH pada saat folikel mendekati ovulasi. Progesteron selanjutnya menggertak peningkatan kadar LH yang menyebabkan terjadinya ovulasi (Hafez, 2000). Hormon progesteron juga berperan dalam pertumbuhan saluran reproduksi (oviduct) dan proses peletakan telur. Hanya 7 hingga 10 ovum yang memasuki perkembangan cepat. Selama kira-kira 10 hari ovum pertama masak diikuti dengan peletakan telur (Hafez, 2000 dan Parkhurst, 1988).
Mekanisme Hormon LH dalam Ovulasi Hewan Betina
Lewat pesan kimia hormon mengirimkan isyarat ke otak untuk mengeluarkan sebuah hormon tertentu (FSH). Hormon ini merangsang indung telur untuk menyiapkan sel telur yang matang, kemudian sel telur akan mengeluarkan estrogen. Hormon estrogen tersebut akan menghentikan kerja hormon FSH, sehingga sel telur yang lain menjadi tidak matang. Karena hanya dibutuhkan satu sel telur saja yang siap dibuahi setiap siklusnya. Kadar hormon FSH menurun dan dikeluarkan hormon LH. Hormon ini bertugas untuk melepaskan sel telur matang (ovulasi), yang kemudian ditangkap oleh fimbria yang fungsi dan bentuknya seperti tangan untuk memasukan sel telur melalui tuba fallopi untuk menuju rahim. Sementara itu dikeluarkanpula hormon progesteron untuk menghantikan kerja hormon LH, sehingga tidak terjadi pelepasan sel telur.
C.1. Gangguan Ovulasi
Ovulasi merupakan proses pengeluaran sel telur dari ovarium. Dalam proses ini terlibat berbagai komponen dalam tubuh wanita, terutama adalah komponen hormonal. Hormon yang berperan dalam proses ini diantaranya adalah GnRH, FSH,dan LH. Salah satu kelainan yang dapat mengakibatkan gangguan pengeluaran GnRH adalah gangguan pada sistem endofrin akibat gangguan metabolisme epioid. Kelainan pada sistem endofrin tersebut mengakibatkan tingginya kadar hormon prolaktin atau disebut juga dengan hipoprolaktinemia. Kondisi kadar prolaktin yang tinggi ini akan menaghambat pengeluaran FSH yang bertanggung jawab terhadap pengeluaran sel telur.
C.2. Proses Oogenesis
Oogenesis terjadi di ovarium. Di dalam ovarium banyak terdapat oogonium atau sel induk telur (ovum) yang bersifat diploid. Oogonium kemudian akan mengalami beberapa kali mitosis, dan pada akhir perkembangan embrional bulan ketiga setiap oogonium dikelilingi oleh selapis sel epitel yang berasal dari permukaan jaringan gonad, yang nantinya menjadi sel folikuler.
Hormon LH pada Hewan Jantan
Pada hewan jantan LH sering disebut ICSH (interstitial Cell Stimulating Hormon) bekerja merangsang sel-sel interstitial (sel-sel Leydig) di dalam testis. Sel-sel interstitial dari testis menghasilkan testosteron sebagai hormon kelamin jantan. Ditambahkan pula oleh (Hardjopranjoto, 1995) bahwa ada 2 macam hormon gonadotropin yang memegang peranan penting dalam mengatur fungsi testis, yaitu FSH dan LH. FSH menstimulir pertumbuhan sel germinatif dari tubulus seminiferus dan mendorong terjadinya proses spermatogenesis secara sempurna. Sedangkan LH menstimulasi pertumbuhan sel-sel interstitial terutama sel-sel leydig sehingga dapat menghasilkan hormon testosteron. Kedua hormon testosteron dan LH (ICSH) bersama-sama mempunyai peranan dalam mendorong lebih lanjut pertumbuhan sel germinatif menjadi sel spermatozoa. Oleh karena itu untuk pertumbuhan normal dari tubulus seminiferus dibutuhkan adanya hormon-hormon LH, FSH dan testosteron. Hormon-hormon FSH dan LH sendiri sangat dibutuhkan untuk mendorong produksi normal dari semen untuk jangka waktu lama. Mekanisme kontrol LH terhadap fungsi testis (Frandson, 1991):
Stimulasi diteruskan melalui susunan saraf ke hipotalamus, selanjutnya hipotalamus mengeluarkan GnRH (Gonadotropin Releasing Hormon) yang menggertak kelenjar hipofise anterior untuk menghasilkan hormonnya dalam hal ini yaitu LHRH (LH-Releasing Hormon) yang dikeluarkan hipotalamus dan melalui sistem portal hormon ini akan sampai pada kelenjar hipofise anterior, akibatnya hormon LH dihasilkan.
BAB III
KESIMPULAN
Hormon LH (Luteunizing hormone) diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH, LH berfungsi memicu perkembangan folikel ( sel-sel teka dan granulosa) dan mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge). Kadar hormon FSH yang menurun akan memicu dikeluarkannya hormon LH. Hormon ini bertugas untuk melepaskan sel telur matang (ovulasi), yang kemudian ditangkap oleh fimbria yang fungsi dan bentuknya seperti tangan untuk memasukan sel telur melalui tuba fallopi untuk menuju uterus.
Proses ovulasi tidak berdiri sendiri. Proses ovulasi merupakan bagian dari rangkaian proses yang panjang yang dimulai sejak berada dalam kandungan dengan melibatkan beberapa macam hormon diantaranya LH. Sebelum terjadi ovulasi berlangsung proses oogenesis. Oogenesis adalah suatu proses pembelahan sel dari oogonium menjadi oosit yang nantinya menjadi ootid. Selanjutnya ootid inilah yang nantinya mengalami ovulasi.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, John R and Lasley, John F. 1977. The science of Animals that Service mankid. Second edition. TatamcGraw-Hill Publishing Company limited, New Delhi
Frandson, R. D. 1991. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan oleh B. Srigandono dan K. Praseno)
Hardjopranjoto, S. 1988. Fisiologi Reproduksi. Edisi ke-2. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya. . Hal. 149 –151.
Hardjopranjoto, Soehartojo. 1995. Ilmu Kemajiran pada Ternak. Airlangga University Press, Surabaya
Hafez, E. S. E. 2000. Reproduction in Farm Animals. 7th Ed. Lea & Febiger. Philadelphia. p: 385-393. 394-398.
Turner, C. D. dan J. T. Bagnara., 1976. General Endocrinology. 6 th ed. Saunders Company. Philadelpia. London. Toronto.

0 comments:

KILAS PETERNAKAN ON FACEBOOK