Anda Pengunjung Ke-

free counter

Konsultasi Peternakan

KILAS INFORMASI

KAMI SIAP MENDAMPINGI ANDA
SILAHKAN DIPILIH JASA PELATIHAN DIBIDANG PETERNAKAN
KONTAK KAMI SEGERA Dedy Winarto,S.Pt,M.Si CONTACT PERSON: 0853 2672 1970 E-mail : dedy_good@yahoo.co.id>

LINK JURNAL

PERUSAHAAN PETERNAKAN

TUKAR LINK/BANNER

Topik yang menarik dalam website ini?

"SELAMAT DATANG DIWEBSITE KILAS PETERNAKAN, MEDIA ONLINE SEPUTAR DUNIA PETERNAKAN ANDA"

PENGUMUMAN

KRITIK DAN SARAN KONTEN WEB
Jika Konten Web tidak berkenan atau Dilarang Oleh Pemerintah
Kirim e-mail: Dedy_good@yahoo.co.id
Web ini hanya sebagai sarana berbagi Informasi, Pengetahuan dan wawasan Semata. Informasi Lebih lanjut Tlp 0853 2672 1970(No SMS).
SEMOGA BERMANFAAT

Jateng Kecukupan Daging 2010

Wednesday, January 23, 2008


BAB I
PENDAHULUAN
Pemerintah pada saat ini berusaha meningkatkan produksi pangan, antara lain dengan program kecukupan daging 2010 oleh Dirjen Peternakan. Hal ini sejalan untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi masyarakat yang semakin meningkat seiring bertambahnya penduduk, meningkatnya pendidikan dan kesadaran akan gizi. Disamping itu, peningkatan produksi ternak juga merupakan upaya untuk mengurangi ketergantungan impor produk ternak dari luar negeri.
Berdasarkan hal-hal tersebut, perkembangan sapi potong saat ini masih sangat perlu dikembangkan antara lain dibidang usahanya (agribisnis). Usaha yang menguntungkan dan adanya peluang pasar yang baik akan menstimulasi para pelaku usaha untuk terus mengembangkannya.
Berdasarkan data Dinas Peternakan Jawa Tengah tahun 2006, ketersediaan daging di Jateng mencapai 212,60 ribu ton, sementara kebutuhan lokal wilayah ini sebesar 201,94 ribu ton. Artinya, terjadi surplus produksi daging lebih dari 10 ribu ton. Daya produksi yang relatif tinggi menempatkan Jateng sebagai penyangga kebutuhan daging nasional terbesar kedua setelah Jawa Timur, utamanya daging sapi. Dengan pangsa pasar terbesar adalah DKI Jakarta. Selain itu, sapi potong juga diperdagangkan ke DIY, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kutai. Sentra pengembangan sapi potong ada di Kendal, Kebumen dan Wonogiri, sedang sapi potong cross ada di Kabupaten Magelang, Banjarnegara, Pati, Grobogan dan Kudus.
ANALISIS SWOT POTENSI BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG (Bos Sp) MENUJU TERCAPAINYA PROGRAM KECUKUPAN DAGING 2010
di JAWA TENGAH
A. STRENGTH (KEKUATAN) :
Luas wilayah Jawa Tengah mencapai 25,04 persen dari luas pulau Jawa ini merupakan salah satu lumbung ternak nasional dengan populasi ternak hampir tiga juta satuan Animal Unit (AU), dan potensi pakan ternak sekitar 4,02 juta AU (Trobos, 2007).
Program pemerintah tentang kecukupan daging 2010
Jawa Tengah sebagai penyangga kebutuhan daging nasional terbesar kedua setelah Jawa Timur, utamanya daging sapi (data Dinas Peternakan Jawa Tengah tahun 2006)
Beberapa peraturan/perundang-undangan yang mendukung perkembangan bidang peternakan meliputi:
UU No. 6 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok peternakan dan kesehatan hewan: Tanah Air Indonesia mempunyai potensi yang besar di bidang peternakan; potensi tersebut harus dimanfaatkan untuk kemakmuran, kesejahteraan, peningkatan taraf hidup serta pemenuhan kebutuhan rakyat akan protein-hewani
Peraturan Perundang-undangan Pertanian Sub Sektor Peternakan: Peraturan Pemerintah No.16 Tahun 1977 tentang Usaha Peternakan
Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 2000 Tingkat Ketelitian Peta Untuk Penataan Ruang dan Wilayah
SK Mentan No.404/Kpts/OT.210/6/2002 Pedoman Perizinan dan Pendaftaran Usaha Peternakan
SK Mentan No.05/Kpts/OT.210/1/2002 Perubahan Lampiran Keputusan Menteri Pertanian No. 419/Kpts/OT.210/2001 tentang Pedoman Budidaya Ternak Sapi Potong yang baik (Good Farming Pratice)
SK Mentan No.510/94/A/IV/2001 Tindakan Penolakan dan Pencegahan Masuknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
Lampiran SK Memperindag No 28/MPP/1/1998 tentang Bea Masuk
Selama proses pemeliharaan bisa memanfaatkan kotoran sapi tersebut menjadi biogas dan pupuk kandang selain daging sebagai produk utamanya
Disamping itu produk kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket; tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan garang kerajinan; tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia
WEAKNESS (KELEMAHAN)
Manajemen pemeliharaan, pakan, bibit dan tata laksana kandang belum sepenuhnya berjalan dengan baik
Penanganan limbah peternakan yang tepat guna dan aplikatif agar tidak mencemari lingkungan belum dijalankan dengan baik para pelaku usaha
Teknologi modern yang aplikatif untuk memanfaatkan limbah (By product) menjadi lebih berguna/bernilai dan tidak bersifat polutan
OPPORTUNITY (KESEMPATAN)
Peluang pangsa pasar yang sudah ada dan terjalin selama ini adalah terbesar ke DKI Jakarta Selain itu, sapi potong juga diperdagangkan ke DIY, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kutai
Selama tahun 2005, populasi ternak di Jawa Tengah tercatat 2,4 juta animal unit (AU), sedang daya dukung pakan ternak dan limbah pertanian 4,1 juta AU. Maka peluang pengembangan ternak masih 1,68 juta AU (Gubernur Jateng, 2006)
Sentra pengembangan sapi potong ada di Jawa Tengah meliputi 8 Kabupaten yaitu Kendal, Kebumen dan Wonogiri, sedang sapi potong cross berada di Kabupaten Magelang, Banjarnegara, Pati, Grobogan dan Kudus
Propinsi Jawa Tengah mengirim lebih dari 140.000 ekor sapi potong/th ke daerah lain
THREAT (ANCAMAN)
Masih sering beredar daging sapi glondongan dikawasan Jawa Tengah akan mempengaruhi citra pasar
Beberapa kasus penyakit seperti antrak, penyakit mulut dan kuku masih belum tertangani sepenuhnya
ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG
Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Salatiga skala 25 ekor pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
Biaya Produksi
Beli 25 ekor bakalan: 25 x 250 kg x Rp. 7.800 = Rp 48.750.000,-
Kandang = Rp 1.000.000,-
Tenaga kerja 2 orang @ Rp 400.000/bln (12 bln) = Rp 9.600.000,-
Pakan
Hijauan: 25 x 35 kg x Rp.37,50 x 365 hari = Rp 12.000.000,-
Konsentrat: 25 x 2kg x Rp. 410,- x 365 hari = Rp 7.482.500,-
Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp. 3.000 = Rp 75.000,-Jumlah biaya produksi = Rp 78.907.500,-
Pendapatan :
Penjualan sapi kereman Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0,8 kg = 7.300 kg, Berat sapi setelah setahun: (25 x 250 kg) + 7.300 kg = 13.550 kg
Harga jual sapi hidup: Rp. 8.200/kg x 13.550 kg = Rp 111.110.000,-
Penjualan kotoran: 25 x 365 x 10 kg x Rp12,- = Rp 1.095.000,-Jumlah Pendapatan = Rp 112.205.000,-
KeuntunganTanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 25 ekor sapi selama setahun = Rp 33.297.500,-
Parameter kelayakan usaha :
Nilai BEP untuk volume produksi
=
=
= 0.62
B/C Ratio =
=
= 1.42
Nilai BEP untuk volume produksi
= x 100%
= x 100%
= 42,2% (artinya dari Rp 100,- modal yang ditanamkan akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 42,00)
Rasio keuntungan terhadap pendapatan
= x 100%
= x 100%
= 29.68%
KAJIAN ASPEK LINGKUNGAN
Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter agar tidak menjadi polutan baik bau kotoran sapi maupun rembesan air kesumur sekitar pemukiman dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.
Kotoran sapi ditempatkan agak jauh dari kandang dengan jarak kurang lebih 5 meter dan dilakukan pemisahan antara kotoran yang masih basah dengan yang sudah kering. Hal ini untuk memudahkan pengolahan kotoran tersebut menjadi pupuk kompos bersama sisa-sisa pakan yang sudah bercampur dengan kotoran. Sehingga bisa menambah penghasilan bagi para pelaku usaha ternak baik petani ternak maupun perusahaan (penggemukan maupun pembibitan) disamping produk utamanya. Pupuk kompos ini sangat penting karena dapat menyuburkan tanah dan ramah terhadap lingkungan.
Disamping pengolahan kotoran sebagai pupuk kompos atau pupuk kandang, juga diupayakan pengolahannya sebagai biogas untuk mendayagunakan seiring kelangkaan minyak tanah yang akhir-akhir ini melanda masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas Siregar Djarijah. 1996, Usaha Ternak Sapi, Kanisius, Yogyakarta.
Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta Undang Santosa. 1995, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi, Penebar Swadaya,Jakarta.
Kohl, RL. and J.N. Uhl. 1986, Marketing of Agricultural Products, 5 th ed, Macmillan Publishing Co, New York.
Lokakarya Nasional Manajemen Industri Peternakan. 24 Januari 1994,Program Magister Manajemen UGM, Yogyakarta.
Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. 1991, Petunjuk Teknis Pemeliharaan Sapi Potong, Direktorat Bina Produksi Peternakan
Yusni Bandini. 1997, Sapi Bali, Penebar Swadaya, Jakarta

0 comments:

KILAS PETERNAKAN ON FACEBOOK