Anda Pengunjung Ke-

free counter

Konsultasi Peternakan

KILAS INFORMASI

KAMI SIAP MENDAMPINGI ANDA
SILAHKAN DIPILIH JASA PELATIHAN DIBIDANG PETERNAKAN
KONTAK KAMI SEGERA Dedy Winarto,S.Pt,M.Si CONTACT PERSON: 0853 2672 1970 E-mail : dedy_good@yahoo.co.id>

LINK JURNAL

PERUSAHAAN PETERNAKAN

TUKAR LINK/BANNER

Topik yang menarik dalam website ini?

"SELAMAT DATANG DIWEBSITE KILAS PETERNAKAN, MEDIA ONLINE SEPUTAR DUNIA PETERNAKAN ANDA"

PENGUMUMAN

KRITIK DAN SARAN KONTEN WEB
Jika Konten Web tidak berkenan atau Dilarang Oleh Pemerintah
Kirim e-mail: Dedy_good@yahoo.co.id
Web ini hanya sebagai sarana berbagi Informasi, Pengetahuan dan wawasan Semata. Informasi Lebih lanjut Tlp 0853 2672 1970(No SMS).
SEMOGA BERMANFAAT

Pembuatan silase

Wednesday, January 23, 2008

PENDAHULUAN
Pengawetan hijauan merupakan bagian dari sistem produksi ternak. Pengawetan hijauan dengan pembuatan silase bertujuan agar pemberian hijauan sebagai pakan ternak dapat berlangsung secara merata sepanjang tahun, untuk mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau harus dilaksanakan pengawetan. Tanaman mempunyai kecepatan tumbuh yang besar di musim penghujan, jadi ketersediaan hijauan ataupun limbah hasil pertanian pada musim tersebut akan berlimpah (jerami padi,sisa tanaman jagung,kacang-kacangan).
Fungsi pengawetan akan tercapai apabila pasca hijauan ataupun limbah pertanian dipanen segera dilakukan pencacahan baik dengan golok atau chopper rumput. Hal ini merupakan upaya agar proses respirasi yang terjadi pada sel tanaman segera terputus dan berhenti. Tujuannya adalah agar kandungan air hijauan dapat mencapai titik dimana aktivitas air dalam sel tanaman dapat mencegah perkembangan mikroba. Pengawetan tersebut akan berdampak pada keadaan fisik serta komposisi kimia hijauan tersebut antara lain dengan kehilangan sebagian dari zat makanan (gizi tanaman/nutrien) yang nantinya akan berdampak pada nilai nutrisi hijauan tersebut.
Definisi Silase
Menurut (Prihatman, 2000 ) silase adalah bahan pakan ternak berupa hijauan (rumput-rumputan atau leguminosa) yang disimpan dalam bentuk segar mengalami proses ensilase. Pembuatan silase bertujuan mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau atau ketika penggembalaan ternak tidak mungkin dilakukan. Sedangkan (Kartasudjana, 2001) menjelaskan silase merupakan hijauan yang difermentasi sehingga hijauan tersebut tetap awet karena terbentuk asam laktat. Silase berasal dari hijauan makanan ternak ataupun limbah pertanian yang diawetkan dalam keadaan segar (dengan kandungan air 60-70 %) melalui proses fermentasi dalam silo. Silo merupakan tempat pembuatan silase, sedangkan ensilage adalah proses pembuatan silase. Silo dapat dibuat diatas tanah yang bahannya berasal dari: tanah, beton, baja, anyaman bambu, tong plastik, drum bekas dan lain sebagainya .
Prinsip utama pembuatan silase yaitu:
menghentikan pernafasan dan penguapan sel-sel tanaman.
mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi kedap udara.
menahan aktivitas enzim dan bakteri pembusuk.
Mencapai dan mempercepat keadaan hampa udara (anaerob)
Terbentuk suasana asam dalam penyimpanan (terbentuk asam laktat)
Untuk mendapatkan suasana anaerob dikerjakan dengan cara pemadatan bahan silase (hijauan) yang telah dicacah dengan cara ditekan, baik dengan menggunakan alat atau diinjak-injak sehingga udara sekecil mungkin (minimal). Tempat penyimpanan (silo) diharapkan tidak ada kebocoran dan harus tertutup rapat dengan diberi pemberat.
Sel-sel tanaman untuk sementara waktu akan terus hidup dan mempergunakan O2 yang ada didalam silo. Bila O2 telah habis terpakai, terjadi keadaan anaerob didalam tempat penyimpanan yang tidak memungkinkan bagi tumbuhnya jamur/cendawan. Bakteri pembentuk asam akan berkembang dengan pesat dan akan merubah gula dalam hijauan menjadi asam-asam organik seperti asam asetat, asam susu dan juga alkohol. Dengan meningkatnya derajat keasaman, kegiatan bakteri-bakteri lainnya seperti bakteri pembusuk akan terhambat. Pada derajat keasaman tertentu (pH = 3,5) bakteri asam laktat tidak pula dapat bereaksi lagi dan proses pembuatan silase telah selesai (Anon., 1977; Wignall & Tatterson, 1976 dalam Wood, 1985)
Pembentukan suasana asam dengan cara penambahan bahan pengawet atau bahan tambahan (additif) secara langsung maupun tidak langsung. Pemberian bahan pengawet secara langsung dengan menggunakan:
Natrium bisulfat
Sulfur oxida
Asam chlorida
Asam sulfat
Asam propionat.
dll.
Pemberian bahan pengawet atau tambahan (additif) secara tidak langsung ialah dengan memberikan tambahan bahan-bahan yang mengandung hidrat arang (carbohydrate) yang siap diabsorpsi oleh mikroba, antara lain :
Molase (melas) : 2,5 kg /100 kg hijauan.
Onggok (tepung) : 2,5 kg/100 kg hijauan.
Tepung jagung : 3,5 kg/100 kg hijauan.
Dedak halus : 5,0 kg/100 kg hijauan.
Ampas sagu : 7,0 kg/100 kg hijauan.
Pembuatan silase pada temperatur 27-35 0C, menghasilkan kualitas yang sangat baik. Hal tersebut dapat diketahui secara organoleptik, yakni:
1. mempunyai tekstur segar
2. berwarna kehijau-hijauan
3. tidak berbau
4. disukai ternak
5. tidak berjamur
6. tidak menggumpal
Beberapa metode dalam pembuatan silase:
1. Metode Pemotongan
Hijauan dipotong-potong dahulu, ukuran 3-5 cm
Dimasukkan kedalam lubang galian (silo) beralas plastik
Tumpukan hijauan dipadatkan (diinjak-injak)
Tutup dengan plastik dan tanah
Rumput yang dipotongnya terlalu panjang, akan menyulitkan saat pengepakan ke dalam silo, dan kemungkinan masih banyak oksigen yang tersisa. Jadi ini akan menyulitkan tercapainya suasana anaerob. Sedangkan pemotongan/pencincangan rumput yang terlalu lama akan berakibat menurunnya kandungan lemak susu, ruminasi, proses memamah biak, pengeluaran air liur (salivasi) dan menyebabkan rendahnya pH rumen (acidosis).
Jenis hijauan yang dapat dibuat silase meliputi:
- Rumput.
- Sorghum.
- Jagung.
- Biji-bijian kecil.
Dalam pembuatan silase ada tiga faktor yang berpengaruh. Pertama: hijauan yang cocok dibuat silase adalah rumput, tanaman tebu, tongkol gandum, tongkol jagung, pucuk tebu, batang nanas dan jerami padi. Kedua : penambahan zat aditif untuk meningkatkan kualitas silase. Beberapa zat aditif adalah limbah ternak (manure ayam dan babi), urea, air, molases. Aditif digunakan untuk meningkatkan kadar protein atau karbohidrat pada material pakan. Biasanya kualitas pakan yang rendah memerlukan aditif untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Ketiga : kadar air yang tinggi berpengaruh dalam pembuatan silase. Kadar air yang berlebihan menyebabkan tumbuhnya jamur dan akan menghasilkan asam yang tidak diinginkan seperti asam butirat. Kadar air yang rendah menyebabkan suhu menjadi lebih tinggi dan pada silo mempunyai resiko yang tinggi terhadap kebakaran (Pioner Development foundation, 1991 dalam Diana, 2004).
Metode Pencampuran
Hijauan dicampur bahan lain dahulu sebelum dipadatkan (bertujuan untuk mempercepat fermentasi, mencegah tumbuh jamur dan bakteri pembusuk, meningkatkan tekanan osmosis sel-sel hijauan. Bahan campuran dapat berupa: asam-asam organik (asam formiat, asam sulfat, asam klorida, asam propionat), molases/tetes, garam, dedak padi, menir / onggok dengan dosis per ton hijauan sebagai berikut:
asam organik: 4-6kg
molases/tetes: 40kg
garam : 30kg
dedak padi: 40kg
menir: 35kg
onggok: 30kg
Pemberian bahan tambahan tersebut harus dilakukan secara merata ke seluruh hijauan yang akan diproses. Apabila menggunakan molases/tetes lakukan secara bertahap dengan perbandingan 2 bagian pada tumpukan hijauan di lapisan bawah, 3 bagian pada lapisan tengah dan 5 bagian pada lapisan atas agar terjadi pencampuran yang merata.
Pembentukan suasana asam dengan cara penambahan bahan pengawet atau bahan imbuhan (additif) secara langsung dan tidak langsung. Pemberian bahan pengawet secara langsung dengan menggunakan: Natrium bisulfat, sulfur oxida, asam chloride, asam sulfat, asam propionate, dll. Pemberian bahan pengawet / bahan tambahan (additif) secara tidak langsung dengan memberikan tambahan bahan-bahan yang mengandung hidrat arang (carbohydrate) yang siap diabsorpsi oleh mikroba, antara lain: Molase (melas) 2,5 kg /100 kg hijauan, onggok (tepung) 2,5 kg/100 kg hijauan, tepung jagung 3,5 kg/100 kg hijauan, dedak halus 5,0 kg/100 kg hijauan, ampas sagu 7,0 kg/100 kg hijauan.
Metode Pelayuan
Hijauan dilayukan dahulu selama 2 hari (kandungan bahan kering 40% - 50%.
Lakukan langkah seperti halnya metode pemotongan diatas
Tahap-tahap Pembuatan Silase
Beberapa langkah dalam proses pembuatan silase, terdiri dari:
I. Alat
1.1 Silo: alat yang akan dipakai untuk melakukan proses fermentasi, pengawetan hijauan, dan penyiapan. Sebaiknya dengan kapasistas untuk 50 kg hijauan yang telah dicacah.
1.2 Mesin pencacah (Chopper) atau golok dan talenan: untuk mencacah hijauan yang akan dibuat silase.
1.3 Plastik atau bahan lain yang tidak tembus rembesan air sebagai pelapis pada dinding dan penutup silo.
1.4 Ban bekas/bahan-bahan yang digunakan sebagai pemberat.
II. Bahan
2.1 Hijauan makanan ternak (bahan yang telah dipanen) yang akan diawetkan dengan dibuat silase.
2.2 Bahan pengawet (additif) yang dipilih dari salah satu yang tersebut di atas.
III. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Gunakan jas laboratorium selama bekerja.
Gunakan chopper seperlunya, jauhkan tangan dari mata pisau chopper.
Berhati-hati pada saat pembukaan silo, setelah proses ensilage
berakhir karena proses yang tidak sempurna berbahaya untuk saluran pernafasan.
Gunakan blower untuk menghilangkan gas yang terbentuk dan tidak dikehendaki.
IV. Langkah Kerja Pembuatan Silase :
4.1 Hijauan makanan ternak (rumput maupun limbah pertanian), dilayukan dengan cara diangin-anginkan kurang lebih semalaman, kemudian dicacah dengan panjang potongan 2-5 cm atau dilakukan dengan mesin pencacah (chopper).
4.2 Bila tidak dicampur dengan bahan pengawet/ additif, hijauan yang telah dicacah dapat langsung di masukkan ke dalam silo. Jika diberi pengawet/additif, penambahannya dilakukan dengan cara menaburkan secara merata selapis demi selapis untuk hijauan dengan ketebalan 10 cm, kemudian diaduk sampai rata.
4.3 Hijauan yang telah dicampur dengan additif atau pengawet, ditekan kuat-kuat dalam silo (bak silo/kantung plastik), dipadatkan dengan jalan diinjak-injak sehingga tidak ada lagi udara yang tersisa (hampa udara).
4.4 Silo dapat dibongkar sesudah proses fermentasi selesai (30 hari).
V. Kualitas Silase yang baik :
pH sekitar 4
Kandungan air 60-70%.
Bau segar dan bukan berbau busuk.
Warna hijau masih jelas.
Tidak berlendir.
Tidak berbau mentega tengik.
Ilustrasi 1. Langkah Kerja proses pembuatan silase

KESIMPULAN
Mahalnya pakan ternak membuat peternak mengalami kendala waktu menyediakan pakan. Pengawetan hijauan merupakan bagian dari sistem produksi ternak. Pengawetan hijauan dengan pembuatan silase bertujuan agar pemberian hijauan sebagai pakan ternak dapat berlangsung secara merata sepanjang tahun, untuk mengatasi kekurangan pakan di musim paceklik harus dilaksanakan pengawetan. Tanaman mempunyai kecepatan tumbuh yang besar di musim penghujan, jadi ketersediaan hijauan ataupun limbah hasil pertanian pada musim tersebut akan berlimpah (jerami padi,sisa tanaman jagung,kacang-kacangan).
Fungsi pengawetan akan tercapai bila setelah hijauan ataupun limbah pertanian dipanen segera dilakukan pencacahan baik dengan golok atau chopper rumput. Hal ini merupakan upaya agar proses respirasi yang terjadi pada sel tanaman segera terputus dan berhenti. Tujuannya adalah agar kandungan air hijauan dapat mencapai titik dimana aktivitas air dalam sel tanaman dapat mencegah perkembangan mikroba. Pengawetan tersebut akan berdampak pada keadaan fisik serta komposisi kimia hijauan tersebut antara lain dengan kehilangan sebagian dari zat makanan (gizi tanaman/nutrien) yang nantinya akan berdampak pada nilai
nutrisi hijauan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Bolson K.K.,1991. Field Guide for Hay ang Silage Management. NFIA
http://derisimon.wordpress.com/silase: 08 Agustus 2007
Kartasudjana, Ruhyat. 2001. Mengawetkan Hijauan Pakan Ternak. Direktorat Menengah Kejuruan, Jakarta
Prihatman, Kemal. 2000. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan. Bappenas, Jakarta

2 comments:

Anonymous said...

Thank you atas informasinya...

Tapi sedikit masukan ya Mas.

Bila saya sebagai peternak yang akan mengaplikasikannya secara langsung. Bahasanya agak sukar untuk dipahami.

Ada ndak bahasa yang muadah untuk dipahami peternak dengan level pendidikan yang tidak terlalu tinggi dan tidak bgitu paham dengan bahasa ilmiah...?

Biar lebih menarik untuk diterapkan.

Terimakasih.

Woro SP

Dedy said...

@Pak Woro SP,ya terimakasih atas masukannya mungkin lebih baik langsung penyuluhan aplikasinya dan bpk bisa minta pada penyuluh lapangan didaerah masing-masing.selamat mencoba tentunya artikelku bisa untuk acuan juga
(KILAS PETERNAKAN)

KILAS PETERNAKAN ON FACEBOOK