Anda Pengunjung Ke-

free counter

Konsultasi Peternakan

KILAS INFORMASI

KAMI SIAP MENDAMPINGI ANDA
SILAHKAN DIPILIH JASA PELATIHAN DIBIDANG PETERNAKAN
KONTAK KAMI SEGERA Dedy Winarto,S.Pt,M.Si CONTACT PERSON: 0853 2672 1970 E-mail : dedy_good@yahoo.co.id>

LINK JURNAL

PERUSAHAAN PETERNAKAN

TUKAR LINK/BANNER

Topik yang menarik dalam website ini?

"SELAMAT DATANG DIWEBSITE KILAS PETERNAKAN, MEDIA ONLINE SEPUTAR DUNIA PETERNAKAN ANDA"

PENGUMUMAN

KRITIK DAN SARAN KONTEN WEB
Jika Konten Web tidak berkenan atau Dilarang Oleh Pemerintah
Kirim e-mail: Dedy_good@yahoo.co.id
Web ini hanya sebagai sarana berbagi Informasi, Pengetahuan dan wawasan Semata. Informasi Lebih lanjut Tlp 0853 2672 1970(No SMS).
SEMOGA BERMANFAAT

Mendambakan Petani-Ternak Maju

Sunday, September 26, 2010



Oleh Dedy Winarto,S.Pt,M.Si

Seringkali kita mendengar istilah kelompok Tani atau pun Kelompok Tani-Ternak (KTT). Mungkin bagi Anda yang tinggal di pedesaan tidak susah menemukan papan nama bertuliskan KTT....dst. Tapi tahukah Anda,bahwa KTT merupakan upaya mengoptimalkan potensi sumber daya ternak yang ada dengan segala pendukungnya yang dekelola oleh para kelompok tani-ternak ini. Mengapa disebut kelompok tani-ternak?
Para petani di Indonesia mayoritas memiliki ternak dirumahnya sehingga kedua unsur ini tidak bisa dipisahkan. Pada zaman dahulu, menurut salah satu akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purworejo Ir. Sayogo Yulianto,MM istilah pertanian yakni kata "TANI" berasal dari gabungan akronim yakni Ternak, ani-ani dalam bahasa jawa yang artinya panen padi, dan juga ikan.

Asal-muasalnya meskipun belum jelas rincian kronologis sejarah istilah pertanian bahwa Tani merupakan gabungan dari tiga unsur yang tidak bisa dipisahkan yakni ternak, tani dan juga perikanan.
Namun, sayangnya ketiga unsur ini sering dikotomi menjadi parsial yang sepertinya sulit dipisahkan. Contohnya saja pertanian organik,sejak dahulu pertanian organik sebelum ada pupuk kimia (anorganik) sudah ada hanya saja istilah organiknya saja yang belum ada. Tetapi sekarang ini trend pertanian organik, peternakan organik dan lain sebagainya seolah-olah tren yang istimewa padahal seperti pola siklus yang berputar untuk kembali ke zaman dahulu yakni proses bahan pangan yang aman, halal, ramah lingkungan.
Saatnya Petani-Peternak Jaya
Kebutuhan pangan terus meningkat seiring terus meningkatnya jumlah penduduk di dunia termasuk Indonesia. Ketahanan pangan menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi. Negara dan segenap warganya harus bekerja sama bahu membahu mewujudkan ketahanan pangan agar tercupta kedaulatan pangan. Perlu melakukan identifikasi dan menetapkan beberapa bahan makanan alternatif disamping terus berupaya mengintensifkan lahan dan benih unggul seiring makin sempitnya lahan akibat semakin meluasnya asreal pemukiman yang dahulunya persawahan ataupun ladang.
Menggalakkkan kembali 3 hal unsur utama bagi para petani untuk mengembangkan pula peternakan sekaligus perikanan. Tradisi menanam padi disertai budidaya ikan di sawah mungkin sudah jarang sekarang ini, padahal ini adalah sistem minamata atau tumpang sari yang sangat potensial dalam meningkatkan taraf perekonomian bagi petani. Limbah peternakan seperti kotoran, urin dan bekas pakan pun bisa diolah menjadi pupuk kompos, pupuk kandang, pupuk urin dan lain sebagainya.Adanya mikroba aktif dalam pupuk organik inilah yang akan membantu mempertahankan kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Saatnya petani jaya, saatnya petani bangkit untuk mandiri dan tidak konsumtif akan produk-produk pupuk kimia.Pupuk kimia bukannya dilarang tetapi cobalah untuk mandiri dan tetap menyayangi kondisi tanah yang makin kritis akibat pupuk anorganik.
Petani mampu dan bisa melakukannya asalkan didorong kebijakan dan wujud nyata dari segenap instansi/lembaga terkait seperti kementrian pertanian, perguruan tinggi, perbankan dan juga masyarakat. Petani mandiri, Pendapatan meningkat hijrah menuju pertanian yang maju. Semoga


0 comments:

KILAS PETERNAKAN ON FACEBOOK