Anda Pengunjung Ke-

free counter

Konsultasi Peternakan

KILAS INFORMASI

KAMI SIAP MENDAMPINGI ANDA
SILAHKAN DIPILIH JASA PELATIHAN DIBIDANG PETERNAKAN
KONTAK KAMI SEGERA Dedy Winarto,S.Pt,M.Si CONTACT PERSON: 0853 2672 1970 E-mail : dedy_good@yahoo.co.id>

LINK JURNAL

PERUSAHAAN PETERNAKAN

TUKAR LINK/BANNER

Topik yang menarik dalam website ini?

"SELAMAT DATANG DIWEBSITE KILAS PETERNAKAN, MEDIA ONLINE SEPUTAR DUNIA PETERNAKAN ANDA"

PENGUMUMAN

KRITIK DAN SARAN KONTEN WEB
Jika Konten Web tidak berkenan atau Dilarang Oleh Pemerintah
Kirim e-mail: Dedy_good@yahoo.co.id
Web ini hanya sebagai sarana berbagi Informasi, Pengetahuan dan wawasan Semata. Informasi Lebih lanjut Tlp 0853 2672 1970(No SMS).
SEMOGA BERMANFAAT

Rendah, Kesadaran Minum Susu

Thursday, December 17, 2009



Dibandingkan dengan konsumsi susu di negara-negara maju, konsumsi susu rakyat Indonesia masih rendah, yakni seperempat.
Dari tingkat konsumsi itu, sekitar 70% kebutuhan susu masih ditopang produk susu impor. Adapun 85% penyuplai susu berasal dari sapi perah di Jawa.
”Konsumsi susu rakyat Indonesia masih sangat rendah, yakni 9,7 l per orang per tahun. Padahal, Vietnam 11,2 l per orang per tahun, Malaysia 17 l per orang per tahun, Belanda 123 l per orang per tahun, dan Finlandia 184 l per orang per tahun,” kata Dekan Fakultas Peternakan (FP) Undip Dr Ir Joelal Achmadi MSc. Dia mengemukakan hal itu pada pembukaan Gerakan Minum Susu Segar (Gerimis) di Fakultas Peternakan Undip Tembalang.
Dia menyatakan rendahnya tingkat konsumsi dan kesadaran minum susu merupakan salah satu kendala bagi perkembangan produsen susu segar di Indonesia. Selain itu, agrobisnis persusuan nasional masih menghadapi masalah tingkat produksi yang rendah dan tata niaga yang tak berpihak pada peternak produsen.
”Volume susu impor per tahun Rp 7,5 triliun. Sistem impor itulah yang merugikan petani,” ujarnya.
Jika ditinjau dari segi usaha, peternakan sapi perah sangat menjanjikan. Selama tiga tahun, seekor induk sapi perah menghasilkan dua ekor anak sapi. Balik investasinya lebih dari 50%.
Peternakan Konvensional Para peternak juga menghadapi kendala kekurangan instalasi pengolahan susu. Koperasi di Jawa Tengah yang memiliki instalasi tersebut kurang dari 10.
”Susu mudah rusak dalam jangka waktu dua jam. Rata-rata susu yang akan disetor peternak ke perusahaan pengolah ditolak karena kualitasnya jelek,” katanya.
Dibandingkan dengan Jawa Barat dan Jawa Timur, sistem pengolahan atau pengawetan susu di Jawa Tengah sangat jelek. Peternak di provinsi ini masih mengandalkan sistem beternak konvensional.
”Hanya tiga daerah yang jadi penghasil terbesar susu segar, yakni Boyolali, Kabupaten Semarang, dan Purbalingga. Iklim di ketiga daerah itu sangat cocok untuk peternakan sapi perah,” tutur dia.
Gerakan minum susu itu juga digelar serangkaian dengan lomba karya tulis ilmiah SMA bidang peternakan. Lomba itu diikuti finalis dari SMA se-Indonesia, yakni SMAN 2 Bengkulu, SMAN 1 Ponorogo, SMAN 1 Giri Banyuwangi, SMA Darul Ulum 2 Jombang, SMAN 1 Kragan Rembang, SMAN 1 Sultajayan Blitar, Madrasah Aliyah Negeri Takeran Magetan, Madrasah Aliyah Negeri DenanyarJombang, SMA Taruna Nusantara Magelang, dan SMAN 1 Batang.
Dokumentasi gambar oleh Admin Sendiri.
Sumber : Suara Merdeka / 3 Nopember 2009

Admin by Dedy
@ Desember 2009

0 comments:

KILAS PETERNAKAN ON FACEBOOK